
InvestigasiGWI.com | PANIMBANG, PANDEGLANG — Kegiatan Pengajian Tingkat Desa yang digelar di Kampung Kendal, Desa Citeureup, Minggu (26/04/2026), tidak sekadar menjadi agenda keagamaan biasa. Di balik suasana religius, muncul pesan tegas yang dinilai sarat makna: moral, amanah, dan… pengawasan dana desa.
Kepala Desa Citeureup, Oman, hadir langsung bersama perangkat desa dan unsur kelembagaan. Kehadirannya memang menuai apresiasi. Namun, sorotan tajam justru mengarah pada isi sambutannya yang secara eksplisit mengajak masyarakat ikut mengawasi penggunaan dana desa.
“Mari kita jaga ukhuwah dan bersama-sama awasi dana desa agar tepat sasaran,” tegas Oman di hadapan ratusan warga.
Pernyataan ini memantik pertanyaan publik. Mengapa isu pengawasan dana desa disampaikan dalam forum keagamaan? Apakah ini bentuk transparansi, atau sinyal adanya potensi persoalan yang perlu diantisipasi?
Sejumlah pengamat menilai, pesan tersebut bisa dibaca sebagai langkah preventif. Namun di sisi lain, tidak sedikit yang melihatnya sebagai alarm halus—bahwa pengelolaan anggaran desa memang harus menjadi perhatian serius.
Kegiatan pengajian yang diisi tausiyah bertema amanah kepemimpinan dan kejujuran bermuamalah semakin menguatkan benang merah tersebut. Ustadz yang memberikan ceramah menegaskan bahwa jabatan adalah titipan yang akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.
Di tengah suasana khidmat, publik justru menangkap pesan yang lebih dalam: moral dan integritas aparatur desa kini menjadi sorotan utama.
Tokoh masyarakat setempat memang menyampaikan apresiasi atas kehadiran kepala desa. Namun di balik itu, harapan besar disematkan agar tidak ada celah penyimpangan dalam tata kelola pemerintahan desa.
Kegiatan juga diakhiri dengan penyaluran santunan kepada anak yatim dan kaum dhuafa—langkah sosial yang patut diapresiasi. Namun bagi sebagian kalangan, aksi-aksi sosial tidak boleh menutupi kewajiban utama: transparansi dan akuntabilitas anggaran publik.
Pengajian berlangsung aman dan penuh kekeluargaan. Tetapi pesan yang tertinggal jelas—masyarakat kini tidak hanya diajak berdoa, tetapi juga diminta membuka mata.
InvestigasiGWI.com menegaskan:
Pengawasan dana desa bukan sekadar imbauan, melainkan keharusan. Setiap rupiah anggaran harus bisa dipertanggungjawabkan. Jika tidak, maka pengajian dan seruan moral hanya akan menjadi retorika tanpa makna.
Reporter: M. Sutisna
Editor: Zulkarnain Idrus

.jpeg)