
InvestigasiGWI.com | Binjai – Pemerintah Kota Binjai menerima sembilan unit kursi roda adaptif khusus anak (Wheelchair for Kids) dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) yang menggandeng Wheelchair For Kids Australia dan Global Village Foundation Bali.
Bantuan tersebut diserahkan dalam kegiatan Penyerahan Bantuan Kursi Roda Adaptif Bagi Anak Penyandang Cerebral Palsy Provinsi Sumatera Utara Tahun 2026 di Aula Tengku Rizal Nurdin, Rumah Dinas Gubernur Sumatera Utara, Jalan Sudirman, Rabu (18/02).

Data yang dihimpun menyebutkan, tahap awal penyaluran tahun 2026 ini mencapai 135 unit kursi roda adaptif dengan total nilai anggaran Rp742.500.000. Dari jumlah tersebut, Kota Binjai memperoleh sembilan unit untuk anak-anak penyandang cerebral palsy.
Ketua TP PKK Provinsi Sumatera Utara, Kahiyang Ayu, menegaskan bahwa bantuan tersebut merupakan bentuk pemenuhan hak anak untuk memperoleh kehidupan yang lebih layak dan kesempatan bersosialisasi lebih luas.

“Semoga kursi roda ini bermanfaat untuk anak-anak kita, karena mereka juga punya hak untuk melihat dunia lebih luas dan bersosialisasi dengan masyarakat di sekitarnya,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua TP PKK Kota Binjai, Nurhayati Amir Hamzah, menyampaikan apresiasi atas perhatian Pemprovsu terhadap anak-anak disabilitas di daerahnya. Ia berharap bantuan tersebut benar-benar memberi dampak nyata dalam menunjang aktivitas dan kemandirian anak penerima.
Direktur Global Village Foundation Bali, Andy Bracey, mengungkapkan bahwa kerja sama dengan Wheelchair For Kids Australia telah berjalan sejak 2016. Secara global, lebih dari 70 ribu kursi roda telah disalurkan ke lebih dari 90 negara. Di Indonesia sendiri, sejak 2021, lebih dari 4.000 unit telah didistribusikan.

Kepala Dinas P3AKB Sumatera Utara, Dwi Endah Purwanti, menyebutkan bahwa bantuan ini menyasar 12 kabupaten/kota dan berpotensi bertambah. Bahkan, Global Village Foundation dikabarkan siap menyalurkan tambahan 1.000 kursi roda adaptif pada 2026, dengan syarat tersedianya data akurat anak penyandang cerebral palsy.
Namun demikian, publik tentu berharap program ini tidak berhenti pada seremoni penyerahan simbolis semata. Transparansi data penerima, mekanisme verifikasi kebutuhan, hingga pengawasan distribusi menjadi kunci agar bantuan benar-benar tepat sasaran dan tidak menyisakan pertanyaan di kemudian hari.
InvestigasiGWI.com menilai, langkah ini patut diapresiasi sebagai bentuk kolaborasi lintas lembaga dan internasional. Tetapi lebih dari itu, komitmen jangka panjang dalam pemenuhan hak anak penyandang disabilitas harus terus dikawal—bukan hanya hadir saat seremoni, melainkan berkelanjutan dalam kebijakan dan penganggaran daerah.
Reporter: Zulkarnain Idrus

.jpeg)