Investigasigwi.com - Kabupaten Serang — Suara harapan kembali menggema dari warga Kampung Kuranji, Desa Cakung, Kecamatan Binuang, Kabupaten Serang. Setelah bertahun-tahun menunggu, masyarakat merasa seperti anak bawang di tengah pembangunan daerah. Jalan poros desa sepanjang 200 meter yang menjadi urat nadi aktivitas mereka, hingga kini belum juga tersentuh realisasi pembangunan. Minggu (30/11/2025).
Di desa yang dihuni sedikitnya 250 kepala keluarga dengan lebih dari 300 jiwa, jalan poros ini adalah jalur utama yang menghubungkan warga ke sekolah, puskesmas, tempat kerja, pasar, hingga akses menuju dua kabupaten sekaligus—Serang dan Tangerang. Namun kondisi jalannya jauh dari kata layak.
Jalan Rusak yang Menghisap Harapan
Kerusakan jalan semakin terasa saat musim hujan tiba. Tanah tak merata dipenuhi kubangan, licin, dan kerap menimbulkan risiko kecelakaan. sulit lewat, sepeda motor harus ekstra hati-hati, sementara pejalan kaki kerap terjebak lumpur.
“Kami seperti dianaktirikan. Jalan ini bukan untuk kemewahan, tapi kebutuhan hidup kami sehari-hari,” tutur Ibu H. Hamdiah, salah satu kader perempuan Desa Cakung yang sejak awal konsisten menyuarakan kebutuhan warga.
Bersama warga RT/RW 02/01, ia turun langsung menggalang dukungan, dan menyampaikan aspirasi kepada pemerintah desa dan kecamatan. Upaya itu bukan baru sekali dilakukan, namun warga mengaku belum melihat langkah konkret yang memuaskan.
Gotong Royong Tak Pernah Padam
Meski fasilitas minim dan anggaran terbatas, semangat gotong royong warga tidak pernah padam. Dengan alat seadanya—cangkul, sekop, dan karung berisi tanah atau batu—warga berinisiatif melakukan penimbunan darurat agar jalan masih dapat dilalui.
Bagi mereka, jalan fisik beton dan aspal yang diharapkan Ada masa depan anak-anak sekolah, akses bagi warga sakit, dan kehidupan ekonomi masyarakat yang dipertaruhkan.
“Kalau bukan kami yang bergerak, siapa lagi? Tapi kami tetap berharap pemerintah hadir, karena ini bagian dari hak kami sebagai warga negara,” ungkap salah satu tokoh masyarakat yang ikut dalam kegiatan perbaikan darurat.
200 Meter yang Menentukan Martabat Warga
Pembangunan hanya 200 meter jalan sebenarnya bukan proyek besar jika dibandingkan kebutuhan infrastruktur di daerah lain. Namun bagi warga Desa Cakung, 200 meter itu adalah simbol keadilan, perhatian, dan bukti bahwa suara rakyat kecil tetap didengar.
Warga berharap pemerintah kecamatan hingga kabupaten segera turun tangan melakukan peninjauan dan percepatan realisasi program, agar masyarakat tidak lagi merasa seperti “anak bawang” di daerah sendiri.
Perjuangan warga Desa Cakung adalah potret kecil dari banyak desa yang masih berjuang mendapatkan hak dasar mereka. Namun dengan semangat kolektif dan dorongan dari masyarakat, harapan bahwa jalan poros desa ini akhirnya akan dibangun tetap terus menyala—meski harus di tengah lumpur sekalipun.
(Red)



.jpeg)