Pancasila di Tengah Ujian Bangsa: Polres Binjai Ingatkan Bahaya Radikalisme, Intoleransi dan Ketidakadilan Sosial

Redaksi Media Bahri
0

Kapolres Binjai AKBP Mirzal Maulana, S.I.K., S.H., M.M., M.H.

InvestigasiGWI.com | Binjai – Di saat bangsa Indonesia terus menghadapi berbagai persoalan yang mengancam persatuan, mulai dari intoleransi, radikalisme, penyebaran hoaks, hingga kesenjangan sosial yang masih dirasakan masyarakat bawah, peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 di Polres Binjai menjadi lebih dari sekadar upacara rutin tahunan.


Momentum ini justru menjadi pengingat keras bahwa nilai-nilai Pancasila yang selama ini diagungkan tidak boleh berhenti sebatas pidato seremonial, spanduk, atau slogan yang dipajang setiap tanggal 1 Juni. Pancasila harus hadir dalam tindakan nyata, penegakan hukum yang adil, pelayanan publik yang bersih, dan keberpihakan terhadap rakyat kecil.


Bertempat di Lapangan Apel Polres Binjai, Jalan Sultan Hasanuddin No.1, Senin (1/6/2026), Kapolres Binjai AKBP Mirzal Maulana, S.I.K., S.H., M.M., M.H., memimpin langsung upacara peringatan Hari Lahir Pancasila yang diikuti para Pejabat Utama (PJU), perwira, personel Polri dan ASN.


Dalam amanat yang dibacakan berdasarkan Surat Edaran Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Nomor 2 Tahun 2026, Kapolres menegaskan bahwa Pancasila bukan sekadar dokumen historis yang tersimpan dalam lembaran konstitusi, melainkan fondasi moral yang menentukan masa depan bangsa.


Pernyataan tersebut memiliki makna mendalam. Sebab di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital, berbagai ancaman ideologis terus bergerak secara senyap. Polarisasi sosial, ujaran kebencian, provokasi berbasis suku, agama, ras dan antargolongan (SARA), hingga infiltrasi paham radikal menjadi ancaman nyata yang dapat menggerus persatuan nasional dari dalam.


Mengusung tema "Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia", peringatan tahun ini seakan menjadi alarm bagi seluruh elemen bangsa agar tidak terlena dengan stabilitas yang terlihat di permukaan. Sebab sejarah membuktikan bahwa perpecahan sering kali lahir bukan dari ancaman luar, melainkan dari lunturnya nilai persatuan, keadilan, dan toleransi di dalam negeri sendiri.


Kapolres Binjai dalam amanatnya mengingatkan bahwa Indonesia mampu bertahan sebagai negara besar karena memiliki Pancasila sebagai "bintang penuntun" dan "jangkar moral" dalam menghadapi berbagai gejolak zaman.


Namun pertanyaannya, sejauh mana nilai-nilai itu benar-benar diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?


Pancasila berbicara tentang keadilan sosial. Tetapi di berbagai daerah masih ditemukan masyarakat yang berjuang mendapatkan akses pelayanan dasar. Pancasila mengajarkan persatuan. Namun praktik intoleransi dan ujaran kebencian masih kerap muncul di ruang publik maupun media sosial. Pancasila menempatkan kemanusiaan sebagai nilai utama. Tetapi masih banyak rakyat yang berharap negara hadir lebih kuat dalam menjawab berbagai persoalan sosial.


Karena itu, pesan yang disampaikan dalam peringatan Hari Lahir Pancasila tidak boleh berhenti di lapangan upacara. Pesan tersebut harus menjadi refleksi bersama bagi seluruh penyelenggara negara, aparat penegak hukum, tokoh masyarakat, hingga warga biasa.


Kapolres juga menegaskan pentingnya memastikan setiap kebijakan publik berpijak pada prinsip keadilan sosial dan tidak meninggalkan kelompok masyarakat yang lemah.


Pernyataan itu menjadi relevan di tengah tuntutan publik yang semakin besar terhadap transparansi, profesionalisme, dan kehadiran negara dalam menjawab persoalan rakyat.


Hari Lahir Pancasila sejatinya bukan hanya mengenang sejarah lahirnya dasar negara pada 1 Juni 1945. Lebih dari itu, peringatan ini merupakan pengingat bahwa ancaman terhadap bangsa tidak selalu datang dalam bentuk senjata dan kekerasan, tetapi juga melalui lunturnya integritas, melemahnya rasa persaudaraan, tumbuhnya intoleransi, serta hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap institusi yang seharusnya menjadi penjaga keadilan.


Jika nilai-nilai Pancasila hanya berhenti menjadi simbol tanpa implementasi, maka yang tersisa hanyalah seremoni. Namun apabila nilai-nilai itu benar-benar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, maka Pancasila akan tetap menjadi benteng terakhir yang menjaga Indonesia dari perpecahan.


Peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 di Polres Binjai menjadi pesan tegas bahwa menjaga Indonesia tidak cukup hanya dengan menghafal Pancasila, tetapi harus dibuktikan melalui keberanian melawan intoleransi, menegakkan keadilan, dan memastikan negara hadir untuk seluruh rakyat tanpa kecuali.

Reporter : Zulkarnain Idrus

Posting Komentar

0 Komentar
Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top