
InvestigasiGWI.com | Deli Serdang – Tumpukan sampah yang menutupi aliran parit di kawasan Kawasan Industri Medan (KIM) menuju Sinar Gunung, Desa Sampali, Kecamatan Percut Sei Tuan, akhirnya dibersihkan setelah menjadi sorotan publik. Namun, peristiwa ini memunculkan pertanyaan mendasar: mengapa persoalan yang terlihat jelas di lapangan baru ditangani setelah viral dan mendapat perhatian dari luar?
Temuan tersebut pertama kali diangkat Ketua DPD Media Organisasi Siber Indonesia (MOSI), Rudi Hutagaol, melalui unggahan video di media sosial TikTok. Dalam video itu terlihat saluran drainase dipenuhi sampah yang berpotensi menghambat aliran air dan menimbulkan dampak lingkungan bagi kawasan industri maupun masyarakat sekitar.
Tak lama setelah informasi tersebut diteruskan kepada Komisaris Independen KIM, Ibrahim Martabaya, pembersihan langsung dilakukan. Kondisi parit yang sebelumnya dipenuhi sampah berubah menjadi bersih dan kembali berfungsi sebagaimana mestinya.
"Beberapa hari setelah informasi itu kami sampaikan, saat melintas kembali di lokasi, kami melihat aliran parit tersebut sudah dibersihkan. Kondisinya jauh lebih baik," ujar Rudi Hutagaol.
Respons cepat itu memang layak diapresiasi. Namun dari sudut pandang pengawasan lingkungan, kejadian ini membuka ruang evaluasi yang tidak bisa diabaikan. Sebab, keberadaan sampah dalam jumlah besar di saluran drainase bukanlah persoalan yang muncul dalam hitungan jam. Tumpukan tersebut diduga telah berlangsung dalam kurun waktu tertentu hingga akhirnya menjadi perhatian masyarakat.
Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah apakah mekanisme pengawasan kebersihan dan pemeliharaan drainase di kawasan industri telah berjalan optimal? Jika berjalan efektif, mengapa persoalan tersebut tidak terdeteksi lebih awal sebelum menjadi sorotan publik?
InvestigasiGWI.com menilai kasus ini menjadi cermin bahwa kontrol sosial masyarakat dan media masih berperan penting dalam mendorong percepatan respons terhadap persoalan lingkungan. Di sisi lain, pengelola kawasan dituntut membangun sistem pengawasan yang lebih aktif, bukan sekadar responsif setelah menerima laporan.
Saat dikonfirmasi, Komisaris Independen KIM Ibrahim Martabaya menegaskan pihaknya berkomitmen menindaklanjuti setiap aduan yang berdampak kepada masyarakat.
"Segala bentuk aduan yang berdampak kepada masyarakat akan kami tindak lanjuti dan benahi secepat mungkin. Kami juga senang menerima kritik dan masukan sebagai bahan evaluasi untuk pembenahan Kawasan Industri Medan agar semakin baik ke depannya," tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal positif bagi masyarakat. Namun publik tentu berharap evaluasi tidak berhenti pada pembersihan satu titik lokasi saja. Yang lebih penting adalah memastikan adanya pengawasan berkala terhadap seluruh jaringan drainase dan fasilitas lingkungan di kawasan industri agar persoalan serupa tidak terus berulang.
Kasus parit penuh sampah yang kemudian mendadak bersih setelah menjadi sorotan publik menjadi pelajaran penting. Bahwa respons cepat memang patut diapresiasi, tetapi pencegahan dan pengawasan yang konsisten jauh lebih dibutuhkan daripada penanganan yang baru dilakukan setelah masalah terlanjur mencuat ke ruang publik.
Reporter : Mhd. Zulfahri Tanjung
Editor : Zulkarnain Idrus

